[REVIEW] Erau Kota Raja Film

Ini adalah film pertama yang mengangkat kebudayaan Kalimantan Timur yang gue tonton. Dari trailernya terlihat menarik banget dan akhirnya bikin gue bela-bela in nonton ini.
Trailernya bisa dilihat dibawah ini.



Bagus?
Trailernya bagus dan mengundang banget buat ditonton. Sayangnya filmnya secara keseluruhan menurut gue tidak se"seru" trailernya. Filmnya terasa panjang dan lamaaaaa sekali. Budaya dan ciri-ciri khas kota Erau merupakan salah bagian terbaik dalam film ini. Sebagai penonton, gue diperkenalkan beberapa budaya dan tradisi yang ada di kota tersebut.

Kenapa kurang "seru"?
Enggak tahu kenapa film ini cukup terasa membosankan. Berikut beberapa hal yang menurut gue bisa diexplore lebih dalam untuk mendapatkan result yang lebih memuaskan.

1. Jalan cerita yang terlalu lama dan pointless
Dalam satu jam saya masih kebingungan dengan arah cerita. Konflik yang ingin dihadirkan kurang jelas. Apakah mengenai Kirana yang dituduh ingin mencuri budaya asli Erau untuk diklaim negara asing atau mengenai Reza yang galau mengenai jati dirinya. Selama satu jam saya masih berusaha meraba-raba sebenarnya point mana yang ingin dibahas. Saya bahkan tidak bisa menemukan klimaks cerita dan closing.

2.  Konflik yang agak aneh
Ada dua konflik yang disorot dalam film ini. Kirana yang dituduh ingin menjual budaya lewat liputannya dan Reza yang enggak mau jadi dokter dan cuma pengen kerja di kecamatan untuk melestarikan budaya. Konflik yang pertama terasa janggal karena masalah ini muncul dari desas desus dan kertas print'nan hasil tulisan Kirana yang diklaim asing. Saya tidak mengerti bagaimana sebuah tulisan bisa membuat sebuah karya diklaim asing. Terlebih lagi konflik ini dihadirkan oleh salah satu karakter yang menghasut/menciptakan berita tidak benar ini secara tiba-tiba. Konflik yang kedua mengenai Ryan juga terasa aneh. Sang ibu ingin anaknya menjadi dokter dan menikah dengan gadis pilihan beliau. Karakter beliau menomor dua kan budaya Erau dan dengan jelas mengatakan bahwa mempunyai masa depan sebagai seorang dokter jauh lebih menjamin untuk Reza. Tapi pada saat Kirana muncul, tiba-tiba saja sang ibu menjadi sangat perduli mengenai keamanan budaya Erau. Terkesan sang Ibu hanya mencari-cari alasan untuk menjelek-jelek'an Kirana di depan Ryan.

3. Karakterisasi tokoh yang "aneh"
Kurang bisa ditangkap nalar mengapa tokoh yang sebenarnya baik ini tega berbuat jahat tanpa alasan yang kuat seperti itu. Tokoh yang sama juga berusaha menampilkan humor di sepanjang cerita yang sebenarnya bertolak belakang dengan karakter "antagonis" yang sudah terlanjur diciptakan di awal. Tokoh yang diperankan oleh Donny Ada Band juga tidak terlalu mencolok dan terkesan hanya sebagai figuran.

4. Tidak ada penyelesaian
Dan Kirana pun diusir dari Erau. Sang ibu mengatakan "Ibu tidak marah." What?

5. Humor yang tidak ada pada tempatnya.
Banyak humor yang diselipkan pada moment-moment serius jadinya merusak suasana yang dibangun. Apalagi perubahan musik yang sendu tiba-tiba jadi terkesan ceria.

6. Musik sepanjang film yang membuat mood turun
Entah mengapa musik yang digunakan terkesan sedih sepanjang cerita dan sangat menganggu mood saya sebagai penonton. Musik background terbaik yang ditampilkan adalah pas Trailer dan penutupan film - lebih bersemangat.


Mungkin film ini memang ini menjadikan budaya sebagai salah satu tema utama. Terasa banget dari setting tempat dan beberapa bagian dimana tokoh-tokoh membahas budaya Erau sendiri. Sayangnya jalan cerita yang dijalankan membuat semuanya jadi blur dan agak membosankan.

Bagaimana pun juga, film ini patut ditonton untuk Anda yang sama sekali tidak mengetahui soal kota Erau.
Saya sendiri yang lahir di Kalimantan kurang tahu soal budaya di kota Erau.

Terima kasih untuk film ini yang sudah memperkenalkan budaya kota Erau.


Sofi Meloni


0 comments:

Post a Comment